Beberapa media kembali dengan membahas isu tentang ide penanaman pohon kelapa sawit dalam konteks rehabilitas hutan dengan alasan, jenis tanaman ini dapat berkembang baik di tanah yang rusak dan memberikan keuntungan finansial bagi penduduk sekitarnya, Topik ini semakin hangat diperbincangkan oleh sejumlah kreator yang mengangkat tema tentang penanaman kelapa sawit serta deforestasi di Sumatera. Namun, ide tersebut tidak bisa diterima tanpa adanya pertimbangan yang matang, karena masih banyak keraguan yang ada mengenai efek lingkungan yang mungkin ditimbulkan. Pada saat inilah, kita menghadapi masalah yang perlu dibahas dengan serius. Penanaman kembali hutan sawit bisa menjadi cara untuk memperbaiki lingkungan setelah bencana, tetapi bisa juga menyebabkan lebih banyak kerusakan hutan di Sumatera dalam waktu yang akan datang.
Pohon kelapa sawit memang memiliki potensi ekonomi yang sangat tinggi serta kemampuan pertumbuhan yang cukup baik di tanah yang telah mengalami degradasi, akan tetapi karakteristik lingkungan hidupnya sangat berbeda dari tanaman hutan asli. Dilihat dari pembudidayaannya, pohon kelapa sawit adalah tumbuhan yang monokultur, yaitu penanaman yang dilakukan dengan satu jenis saja. Seperti yang diuacapkan oleh Ibu Mega “Tanaman sawit itu arogan banget, dia itu sangat manja, ribuan hektar itu harus sekali nanam, ketika sudah tua semuanya harus dibongkar”. Jika pohon kelapa sawit dilakukan untuk mereboisasi hutan dampaknya akan mengubah ekosistem hutan dan keanekaragaman hayati didalamnya.
Hutan pada umumnya memiliki ekosistem yang multikultur (banyak jenisnya) baik dari pohon yang besar, sedang, kecil, dan rumput di hutan. Akar yang dimiliki pun ada akar serabut yang kuat menahan tanah dan akar tunggang yang mampu membuka pori tanah untuk menyerap air masuk kedalam tanah saat hujan. Hutan menjadi penjaga bumi dan rumah bagi para hewan. Berbeda dengan pohon kelapa sawit. Dari segi fisiknya memang masih sama yaitu pohon yang memiliki akar, batang yang tinggi, dan memiliki daun. Akan tetapi fungsinya berbeda, pohon kelapa sawit hanya memiliki akar serabut yang dangkal dan tipis menyebar dipermukaan. Memang, kelapa sawit sangat ahli dalam menyerap air namun, akar pohon kelapa sawit tidak mampu membuat tanah menjadi berpori dan menyerap air saat hujan. Sehingga air tetap diam di permukaan dan menjadi banjir. Kehidupan di sekitar pohon kelapa sawit juga tidak ada, baik itu rumput, pohon kecil, atau hewan. Hal ini dikarenakan penyerapan air pada pohon kelapa sawit yang sangat besar sehingga tanah di sekitarnya menjadi kering dan debit air tanah menurun. Lingkungan disekitar pohon sawit juga terasa lebih panas karena tidak memberikan efek penguapan yang menyejukkan seperti hutan asli. Jika penerapan reboisasi sawit tetap diterapkan, maka pemulihan lahan justru berpotensi gagal dan merusak lingkungan dalam jangka panjang, ekosistem hewan juga akan mulai punah karena tidak ada makanan dan tempat tinggal bagi mereka.
Pemulihan ekosistem hutan setelah terjadinya banjir di Sumatera tidak bisa dilakukan dengan cara cepat tetapi harus secara efisien. Komitmen dalam merancang program reboisasi secara menyeluruh untuk memulihkan ekosistem harus dijadikan prioritas utama, sehingga Sumatera mampu pulih dari bencana dengan menciptakan lingkungan yang lebih Tangguh dan Lestari untuk masa depan. Reboisasi perlu direncanakan dengan teliti melalui studi ekologi yang memperlihatkan keadaan tanah, tingkat erosi, kemampuan menyerap air, serta karakteristik vegetasi setempat. Pemilihan jenis tanaman harus memperhatikan pengembalian fungsi ekologis hutan, bukan hanya nilai ekonomisnya saja. Metode agroforestri dapat menjadi solusi lain yaitu dengan cara mengintegrasikan tanaman berkayu dengan tanman produktif tanpa mengorbankan keanekaragaman hayati. Dengan demikian, pohon kelapa sawit tidak bisa menggantikan ekosistem hutan yang sebenarnya, karena pohon kelapa sawit adalah pohon yang monokultur tidak seperti hutan pada umumnya yang bersifat multikultur.
Oleh : Jufita Risti Putri

COMMENTS